Gangguan mental bukanlah penyakit otak

Stigma dan diskriminasi terhadap sesorang dengan penyakit mental dengan menyebutnya ‘gila’ atau ‘penyakit mental’ telah menyebabkan orang menjadi malu untuk untuk mendapat perawatan. Tekanan yang dihadapi orang berpenyakit mental diperparah oleh tekanan dari masyarakat sekitar, bukan hanya dapat menekan perasaan, juga menyebabkan depresi dan kecemasan yang terus-menerus, sehingga  dapat menyebabkan hilangnya kontrol.

Psikolog internasional Dr Anjhula Mya Singh Bais mengatakan stigma itu sudah ada selama bertahun-tahun dan diakui sulit untuk diubah. “Apabila Anda bertemu dengan seorang psikolog, hal tersebut tidak berarti Anda gila. Saya menghormati mereka yang mencari bantuan seorang ahli, ternyata mereka masih memiliki kesadaran. “Apabila ada yang salah, maka mereka ingin belajar bagaimana cara berpikir lebih baik dan menyelesaikannya. “Bagi saya, terkadang orang yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah mental adalah orang yang paling membutuhkan untuk konsultasi dengan psikolog,” katanya dalam wawancara baru-baru ini.

Satu dari empat orang  mengalami gangguan mental

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari empat orang menderita gangguan mental yang umum seperti depresi dan kecemasan, setiap tahunnya. Selain itu, dua dari 100 orang di komunitas tersebut menderita gangguan bipolar seumur hidup mereka. Dr Anjhula menjelaskan bahwa depresi dan kecemasan lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, karena wanita cenderung mengekspresikan perasaan mereka sebagai kemarahan. Dia mengatakan bahwa orang-orang yang merasa memiliki gangguan mental dapat bertanya kepada orang-orang di sekitar mereka apakah ada perubahan dalam temperamen mereka seperti menjadi pemarah, terisolasi atau tidak dapat fokus pada suatu tugas.

“Kadang-kadang, orang lebih menyadari perubahan dalam diri kita daripada mereka. Jika mereka mendeteksi tanda ini, mereka bisa mendapatkan perawatan lebih cepat,” katanya.

Info lainnya:  Gaya hidup adalah penyebab diabetes pada generasi muda
Konsultasikan dengan psikolog

Dr Anjhula juga menyarankan kepada mereka yang memiliki penyakit mental untuk tidak malu dan meminta nasihat dari seorang psikolog yang berkualifikasi yang memiliki spesialisasi di bidangnya. “Sebagian orang bertanya, mengapa tidak memberi informasi kepada keluarga dan teman-teman tentang masalah mereka dan mencari solusi untuk mereka? Jawaban saya adalah mereka bias dan tidak terlatih secara professional untuk mengatasi masalah tersebut. “Dapatkan masukkan dari psikolog yang mempunyai spesialisasi dalam masalah Anda. Tidak ada salahnya untuk mencari bukti dari mereka karena itu hak Anda sebagai pasien,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *